Metrotvnews.com, Den Haag: Pengunjung meramaikan Pasar
Kuliner Indonesia di Lapangan Malielveld, Den Haag, Belanda. Beberapa
pengunjung pun terpaksa makan sambil berdiri lantaran bangku sudah
penuh.
Keramaian itu tampak di Pasar Malam Indonesia (PMI) 2013 di Den Haag yang berlangsung mulai Sabtu (23/3) hingga Ahad (24/3) waktu setempat. Banyak warga Indonesia yang tinggal di Belanda dan penduduk setempat meluangkan libur akhir pekan mereka ke acara itu.
Akhirnya melalui pengeras suara, panitia meminta pengunjung yang telah menyantap makanan meninggalkan bangku. Sebab dua tahun silam, Dinas Kebakaran setempat membubarkan kegiatan itu lantaran pengunjung ramai berdatangan.
Sejumlah pengunjung mengakui masakan khas Indonesia sudah tidak asing bagi mereka. Sebab warung makan Indonesia bertebaran di sejumlah kota di Negeri Kincir Angin itu.
"Saya suka satai kambing dan cendol. Masakan yang lain juga enak dan sudah saya coba sebelumnya," kata Sisca asal Delf, Belanda.
Begitu juga dua warga Swiss yang sengaja datang ke Belanda mengaku ketagihan menyantap kuliner Indonesia, satu di antaranya lontong sayur.
"Saya sengaja datang ke sini karena banyak makanan Indonesia yang bisa dicoba," kata Gudaun Wolff yang datang bersama Astrid Pearson.
Sejumlah warga Belanda yang pernah tinggal di Indonesia juga tampak menikmati masakan itu. Seperti kakak beradik Karina dan Charlene yang lahir di Jakarta menyatakan kelezatan kuliner Indonesia sudah dikenal di Belanda.
"Saya datang untuk mencicipi sate, gulai kambing, ayam bakar, dan martabak telur," kata Karina.
Charlene juga mencoba menyantap bebek goreng. Tapi dia mengaku masakan itu cukup pedas. "Masakan Indonesia bervariasi, cita rasanya juga beda," katanya.
Makanan Indonesia dijual bervariasi, seperti untuk makan komplet yaitu sate, soto, nasi rames, nasi goreng, lontong sayur, gudeg, gado-gado dijual antara 6 sampai 10 Euro atau sekitar Rp75.000 sampai Rp125.000 per porsi.
Sementara makanan ringan seperti lumpia, tahu isi, pisang goreng, tempe goreng, risoles, lemper, dan kue lapis dijual antara 2 sampai 3 Euro atau Rp25.000 sampai Rp37.500 per potong. Demikian juga minuman khas Indonesia, seperti es cendol, es teler dan es durian, dijual antara 2 sampai 3,5 Euro atau Rp25.000 Rp34.750.
PMI 2013 tidak hanya menyajikan kuliner. Kegiatan itu juga memamerkan hasil produk Indonesia mulai kerajinan tangan, pakaian, aksesoris sampai produk industri besar seperti kelapa sawit.
PMI diselenggarakan pertama kali oleh KBRI Den Haag pada tahun 2010. Saat itu, pameran berlangsung selama lima hari dengan pengunjung mencapai 33.000 orang. Pada 2012, pengunjung lebih dari 27.600 orang dengan transaksi trial order yang diperoleh sebesar 19,8 juta Euro untuk produk minyak kelapa sawit, transaksi ritel sebesar 500.000 Euro, dan transaksi UKM sebesar 241.000 Euro.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia menduduki urutan ke-19 sebagai negara pemasok ke Belanda dengan nilai total perdagangan mencapai 5,5 miliar dolar AS. Sementara ekspor Indonesia tahun 2012 sebesar 4,7 miliar dolar.
Secara keseluruhan, ekspor ke Belanda memberikan kontribusi sekitar 31 persen dari total ekspor Indonesia ke Uni Eropa yang mencapai 14,97 miliar dolar.(Ant)
Keramaian itu tampak di Pasar Malam Indonesia (PMI) 2013 di Den Haag yang berlangsung mulai Sabtu (23/3) hingga Ahad (24/3) waktu setempat. Banyak warga Indonesia yang tinggal di Belanda dan penduduk setempat meluangkan libur akhir pekan mereka ke acara itu.
Akhirnya melalui pengeras suara, panitia meminta pengunjung yang telah menyantap makanan meninggalkan bangku. Sebab dua tahun silam, Dinas Kebakaran setempat membubarkan kegiatan itu lantaran pengunjung ramai berdatangan.
Sejumlah pengunjung mengakui masakan khas Indonesia sudah tidak asing bagi mereka. Sebab warung makan Indonesia bertebaran di sejumlah kota di Negeri Kincir Angin itu.
"Saya suka satai kambing dan cendol. Masakan yang lain juga enak dan sudah saya coba sebelumnya," kata Sisca asal Delf, Belanda.
Begitu juga dua warga Swiss yang sengaja datang ke Belanda mengaku ketagihan menyantap kuliner Indonesia, satu di antaranya lontong sayur.
"Saya sengaja datang ke sini karena banyak makanan Indonesia yang bisa dicoba," kata Gudaun Wolff yang datang bersama Astrid Pearson.
Sejumlah warga Belanda yang pernah tinggal di Indonesia juga tampak menikmati masakan itu. Seperti kakak beradik Karina dan Charlene yang lahir di Jakarta menyatakan kelezatan kuliner Indonesia sudah dikenal di Belanda.
"Saya datang untuk mencicipi sate, gulai kambing, ayam bakar, dan martabak telur," kata Karina.
Charlene juga mencoba menyantap bebek goreng. Tapi dia mengaku masakan itu cukup pedas. "Masakan Indonesia bervariasi, cita rasanya juga beda," katanya.
Makanan Indonesia dijual bervariasi, seperti untuk makan komplet yaitu sate, soto, nasi rames, nasi goreng, lontong sayur, gudeg, gado-gado dijual antara 6 sampai 10 Euro atau sekitar Rp75.000 sampai Rp125.000 per porsi.
Sementara makanan ringan seperti lumpia, tahu isi, pisang goreng, tempe goreng, risoles, lemper, dan kue lapis dijual antara 2 sampai 3 Euro atau Rp25.000 sampai Rp37.500 per potong. Demikian juga minuman khas Indonesia, seperti es cendol, es teler dan es durian, dijual antara 2 sampai 3,5 Euro atau Rp25.000 Rp34.750.
PMI 2013 tidak hanya menyajikan kuliner. Kegiatan itu juga memamerkan hasil produk Indonesia mulai kerajinan tangan, pakaian, aksesoris sampai produk industri besar seperti kelapa sawit.
PMI diselenggarakan pertama kali oleh KBRI Den Haag pada tahun 2010. Saat itu, pameran berlangsung selama lima hari dengan pengunjung mencapai 33.000 orang. Pada 2012, pengunjung lebih dari 27.600 orang dengan transaksi trial order yang diperoleh sebesar 19,8 juta Euro untuk produk minyak kelapa sawit, transaksi ritel sebesar 500.000 Euro, dan transaksi UKM sebesar 241.000 Euro.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia menduduki urutan ke-19 sebagai negara pemasok ke Belanda dengan nilai total perdagangan mencapai 5,5 miliar dolar AS. Sementara ekspor Indonesia tahun 2012 sebesar 4,7 miliar dolar.
Secara keseluruhan, ekspor ke Belanda memberikan kontribusi sekitar 31 persen dari total ekspor Indonesia ke Uni Eropa yang mencapai 14,97 miliar dolar.(Ant)
Kunjungan balik gan http://infodpk.blogspot.com/
BalasHapus